Khalifah Ali bin Abi Thalib

 

PASCA KEMATIAN UTSMAN RADIALLAHU ANHU DAN PENGANGKATAN DAN PEMBAIATAN ALI BIN ABI THALIB RADIALLAHU ANHU MENJADI KHALIFAH

Kematian Utsman Radiallahu anhu menggemparkan kaum muslimin, bagai tusukan pedang dari belakang. Akal-akal mereka seakan tidak percaya, tidak terlintas di benak para shahabat kalau pemberontak berani menumpahkan darah Utsman Radiallahu anhu secara dhalim dan sewenang-wenang.Sampai-sampai Ali bin Abi Thalib Radiallahu anhu berkata ; “Sungguh-sungguh telah hilang akalku ketika
mendengar terbunuhnya Utsman, seakan-akan aku tak mempercayai diriku sendiri. [15]

Adapun Ummul Mukmini -semoga Allah meridhoinya- sangat menyesalkan akan nasib Utsman Radiallahu anhu. Dia sangat marah terhadap para pembunuh Utsman Radiallahu anhu. Hali ini dikarenakan mereka (para pengepung Utsman Radiallahu anhu) sering mendatanginya serta menyebut-nyebut kejelekan Utsman Radiallahu anhu dihadapannya, kemudia Aisyah -semoga Allah meridhoinya- mencela Utsman Radiallahu anhu. Adapun berhubungan dengan darahnya, ia berkata : ‘Aku berlindung kepada Allah dari darah Utsman. Demi Allah aku sangat berharap seandainya aku hidup di dunia ini dalam keadaan belang dan terkelupas kulitku akan tetapi aku tidak pernah menyebut Utsman sama sekali”. [16]

Maksud Aisyah -semoga Allah meridhoinya- adalah, kalau seandainya dia tahu bahwa pengingkarannya
terhadap sebagian ijtihad Utsman Radiallahu anhu -Utsman adalah seorang mujtahid – menyebabkan orang-orang bodoh itu menganggap ijtihad Utsman Radiallahu anhu sebagai perbuatan maksiat dan merupakan penyelewengan terhadap Al Quran dan As Sunnah maka dia akan diam dan tidak akan berkomentar terhadap kesalahan ijtihad Utsman Radiallahu anhu, sehingga perkataannya tidak dijadikan alasan bagi orang-orang bodoh dan ahlul ahwa’ (pengikut hawa nafsu) itu untuk merealisasikan makarnya.

Aisyah-semoga Allah meridhoinya- apabila teringat Utsman Radiallahu anhu, ia menangis dengan tangisan yang sangat memilukan sampai-sampai kerudungnya basah dikarenakan saking derasnya air mata yang mengalir.

Adapun Thalhah bin Ubaidilah Radiallahu anhu berkata : “Aku telah melakukan kesalahan terhadap Utsman, yang aku menganggap tidak ada tebusannya kecuali apabila darahku tertumpah dalam rangka menuntut darahnya”. [17]

Ia berkata pada saat perang Jamal : ‘Dulu kita telah bermudahanah dalam urusan Utsman Radiallahu anhu maka sekarang tidak ada alasan untuk tidak bersungguh-sungguh (dalam memerangi para pembunuh Utsman)”. [18]

Yang dimaksud dengan al mudahanah adalah berlemah lembut dengan para pemberontak. Yang kemudian terbukti bahwa tidak sepantasnya untuk berlemah-lembut dan berbasa-basi terhadap mereka. Akan tetapi ia telah tertipu oleh mereka sebagaimana bebrapa shahabat lainnya. Karena manisnya perkataan mereka, bacaan Al Qur’an mereka yang sangat indah seta shalat mereka yang sangat hebat. [19]

Negara Islam tergoncang karena tidak memiliki khalifah yang memimpin dan mengaturnya. Madinah -ibukota negara- dalam keadaan genting karena dikuasai para pemberontak. Sebagian besar penduduknya pergi melakukan ibadah Haji dan sebagian lagi lari menghindari fitnah.

Riwayat Saif menggambarkan keadaan Madinah serta seberapa jauh pengaruh pemberontak setelah syahidnya Utsman Radiallahu anhu dengan penggambaran yang sangat detail sekali. Disebutkan bahwa para pemberontak hendak mengangkat seorang khalifah, walaupun pada dasarnya mereka tidaklah berani mengangkat kecuali satu diantar tiga orang ini : Ali bin Abi thalib, Thalhah bin Ubaidilah dan Az-Zubair bin Awwam -semoga Allah meridhoi mereka-. Akan tetapi usaha mereka gagal total -memang pantas untuk gagal- karena mereka tidak lebih dari orang-orang bodoh lagi dholim dan bukan termasuk ahlul halli wal ‘aqdi (ulama,umara’,pemimpin-pemimpin kabilah, panglima perang, para pedagang yang ucapan mereka memilliki pengaruh). Oleh karena itu mereka bertekad mengangkat khalifah selain dari ketiga orang ini. Maka mereka mengirim utusan kepada kepada Sa’ad bin Abi Waqqash Radiallahu anhu akan tetapi beliau menolaknya dengan keras dan mereka pun tidak berani memaksanya. [20]

Akhirnya mereka kebingungan dan ketakutan, karena khawatir kalau penduduk madinah akan memerangi mereka bila sampai terlambat mengangkat khalifah. Oleh karena itumereka menawarkan kepada Abdullah bin Umar Radiallahu anhu dan mengancam akan membunuhnya bila menolak, akan tetapi dia tetap menolak tawaran ini. [21]

Disinilah para pemberontak menyadari kalau mereka telah buta mata dan hatinya. Mereka lupa bahwa urusan pengangkatan khalifah bukanlah wewenang mereka akan tetapi wewenang penduduk Madinah, Kaum Muhajirin dan Anshor, kaum badr yang pembesar mereka adalah Ahlu Syura, dan bahwasannya seluruh kaum muslimin adalh pengikut mereka, sebagaimana yang dijelaskan Umar Radiallahu anhu pada akhir kekhalifaaannya. [22]

Kemudian para pemberontal mengumpulkan penduduk Madinah yang berhasil mereka buju. Mereka berkata kepada penduduk Madinah : “Carilah orang yang kalian ridhai sebagai khalifah dan kami akan ikut”. mereka mengatakan : “Ali bin Abi Thalib Radiallahu anhu kami ridha kepadanya”. Maka para pemberontak bersama orang-orang yang berhasil mereka kumpulkan menuju ke rumah Ali bin Abi Thalib Radiallahu anhu. Muhammad bin Al-Hanafiyah meriwayatkan kejadian ini dengan mengatakan :”… Mereka mendatangi Ali bin Abi Thalib dan mengetuk pintunya lalu mereka masuk dan berkata kepadanya : “Sesungguhnya Utsman telah terbunuh, sedangkan harus ada seorang khalifah bagi kaum muslimin dan kami tidak mengetahui seorangpun yang lebih berhak untuk menjadi Khalifah selain engkau”. Maka Ali bin Abi thalib Radiallahu anhu menjawab : “Aku menjadi wakil kalian lebih baik daripada menjadi pemimpin kalian”. maka mereka menjawab : “Tidak. Demi Allah, kami tidak mengetahui seorangpun yang lebih berhak daripada engkau”. Ali bin Abi Thalib Radiallahu anhu berkata : “Apabila kalian bersikeras, maka aku tidak mau dibaiat secara sembunyi-sembunyi. Aku akan pergi ke masjid, barangsiapa ingin membaiatku, maka berbaiatlah”.

Lalu Muhammad bin Al-Hanafiyah berkata : “Maka Ali bin Abi thalib keluar ke masjid dan dibaiat oleh kaum muslimin. [23]

Kaum muslimin telah membaiat Ali bin Abi Thalib, begitu pula Thalhah dan az-Zubair -semoga Allah meridhoi mereka-. Walaupun sebenarnya mereka berduat membaiat Ali bin Abi Thalib Radiallahu anhu dengan terpaksa. Hal ini bukan karena Ali bin Abi Thalib Radiallahu anhu yang menjadi khalifah serta lebih berhaknya Ali bin Abi Thalib Radiallahu anhu untuk itu, tetapi karena cara pembaiatannya. Seakan-akan terjadi secara kebetulan, tanpa melalui majelis Syura (musyawarah) sebagaimana telah diwasiatkan oleh Umar Radiallahu anhu. Mereka pun didatangkan (oleh pemberontak) dengan cara yang paksa dan kasar.

Hampir seluruh riwayat yang shahih maupun dhoif menyebutkan bahwa Talhah dan az-Zubair -semoga Allah meridhai keduanya- membaiat Ali bin Abi thalib Radiallahu anhu dengan terpaksa. Para pemberontak menghadirkan mereka berdua dengan paksa.

Terlepas dari semua itu, mengemban kekhalifahan (bagi Ali bin Abi Thalib Radiallahu anhu) pada saat seperti ini bukanlah hal yang mudah dan gampang. Karena dituntut tanggung jawab yang sangat besar. Sebagai Khalifah yang baru dia (Ali bin Abi Thalib Radiallahu anhu) juga harus menghadapi bahaya yang
selalu mengintai. terutama tuntutan pelaksanaan hukum qishash terhadap pembunuh Utsman Radiallahu
anhu.

Ibnu Umar -semoga Allah meridhoinya- paham betul tentang hal ini, sehingga ketika mereka menawarkan kepadanya khalifah maka ia menolaknya. Beliau beralasan dengan mengatakan : ‘Tidak. Demi Allah, aku tidak ingin terjadi pertumpahan darah selama aku masih hidup. Selain itu juga, masih ada orang yang lebih pantas dan lebih berhak daripada aku”.

Dan hal ini pun diketahui oleh kerabat Ali bin Abi Thalib Radiallahu anhu. Sampai-sampai Al Hasan
Radiallahu anhu (anaknya menasehatinya untuk keluar kota Madinah pada saat terjadinya fitnah. [24] Dan Ibnu Abbas -semoga Allah meridhai keduanya- merasa iba kepadanya dan berkata : “Sesungguhnya kaum muslimin akan menuntutmu untuk menyelesaikan masalah qishash terhadp pembunuh-pembunuh Utsman.” [25]

Akan tetapi Ali bin Abi Thalib bukanlah orang yang individualistis yang hanya memikirkan keselamatan
dirinya semata. Dia merasa bertanggung jawab atas keamanan dan keteraturan umat ini.

Footnote :
[15] Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al Imamah 329 dan al hakim dalam Al Mustadrak 3/105, 3/95 dengan sanad yang hasan dan disebutkan oleh Al Muhibbu At Thabary dalam Ar Riyadh An Nadhiroh 3/78
[16] Masailul Imam Ahmad riwayat Ibnu Hani 2/171 dan Al khollal dalam As Sunnah 385 dari jalan Ahmad
dengan sanad yang shahih
[17] Riwayat Al Hakim dalam Al Mustradak 3/371-372 dengan sanad jayyid sebagaimana dikatakn Adz Dzahabi
[18] Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 11/142 dengan sanad dhahih, dan Ibnu Sa’ad dalam At Thabaqat 3/322, dan Adz Dzhahabi dalam Siyar 1/35
[19] Lihat riwayat Abdur Razzaq 11/147 dalam Bukhari (dalam) Kholqu Af’alii ‘Ibad 25 dengan sanad yang shahih
[20] Diriwayatkan oleh At Thabary dalam tarikhnya 4/432 dari jalan Saif
[21] Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Fadholis Shahabah 22/895 dan Ibnu Sa’ad dalam At Thabaqat 4/151 dan Abu Nu’aim dalam al Hilyah 1/293 semuanya dari sanad Al Hasan, sanadnya shahih
[22] Shaih Bukhari, lihat Fathul bari 12/144-145 bab rajmil Hubla Miazzina dan Ahmad dalam Musnad 1/33, tahqiq Ahmad Syakir dengan sanad shahih
[23] Ahmad dalam Fadhailus Shahabah 2/573 dengan sanad yang hasan dan al Hakim dalam Mustradak 3/96 dengan sanad yang hasan dan Al Khallal dalam As-Sunnah 415-416 dan Baladzari dalam Ansaabul Asyraf 2/163
[24] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 15/99-100 dengan sanad yang hasan. Dan Al Bukahri dalam At Tarikh Kabir 2/67, dan Baladzari dalam Ansaabul Asyraf 2/37 (40) dan Al Hakim dalam Al Mustradak 3/1 IS dan disebutkan oleh Adz Dzahaby dalam tarikhnya (Khulafa Ar Rasyidun 487) dan Siyar 3/261
[25] Diriwayatkan oleh Abdur Razzaq dalam Al Mushannaf 11/448 dengan sanad yang shahih perawi-
perawinya tsiqah dan merupakan perawi Syaikhain dan disebutkan oleh Adz Dzahaby dalam tarikhul Islam (61-80 H) hal 59 dan Ibnu Katsir dalam tafsirnya 5/80.

(Dikutip dari Kitab : Pelurusan sejarah Tragedi Terbunuhnya Utsman Radiallahu anhu. Dari penulis : Al-Qadhi Abu Ya’la, tahqiq : Syaikh Abdul Hamid Al-Faqihi)

About Arminaven

islam adalah segalanya dalam kehidupanku..tiada kehidupan tanpa hidup yang islami
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s