makalah anak diluar nikah, anak angkat dan anak pungut

 

UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH

MASA’ILUL FIQHIYAH

DISUSUN

O

L

E

H

AKHIR MALI

ALISYA NADRA EFFENDY

TAUFIQ MARPAUNG

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS AL WASHLIYAH (UNIVA)

MEDAN

2011

 

KATA PENGANTAR

ÉOó¡Î0 «!$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOŠÏm§9$#

 

Alhamdulillahi robbil ‘alamin, wa sholatu was salamu ‘ala asyrofil anbiya’i wal mursalin wa ‘ala alihi wa ashhabihi ajma’in amma ba’du.

Segala puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah menerangi dan memnuhi hati kita dengan keimanan. Yang mana keimanan adalah nikmat yang terbesar bagi kita. Sholawat dan salam kita sanjung sajikan untuk baginda kita nabi besar Muhammad SAW, seorang rasul yang telah menggandeng tangan kita menuju jalan kebenaran dan penuh dengan kasih sayang Allah.

Tugas ini merupakan persembahan hasil diskusi pemikiran dan pencarian informasi dari berbagai sumber, pillihan judul dan bahannya disesuaikan dengan silabus dan atas perintah dosen mata kuliah yang bersangkutan difakultas pendidikan agama islam.

Dalam penyelesaian tugas ini, kami menyadari banyak dapat kekurangan, kepada semua pihak kami harapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini. Kepada teman dan sahabat yang ikut berpartisipasi dalam penyelesaian makalah ini kami ucapkan terima kasih. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembacanya.

 

Medan 13 March 2011

 

penyusun
Daftar Isi

Kata Pengantar …………………………………………………………………………………………. i

Daftar Isi……………………………………………………………………………………………………. ii

PENDAHULUAN……………………………………………………………………………………… 1

PEMBAHASAN………………………………………………………………………………………… 2

A. Anak Diluar Nikah………………………………………………………………………………… 2

B. Anak Pungut…………………………………………………………………….4

C. Anak Angkat…………………………………………………………………….4

1. Sejarah Dan Pengertian Anak Angkat…………………………………………4

2. Anjuran dan Tujuan Mengangkat Anak………………………………………6

PENUTUP…………………………………………………………….9

Kesimpulan………………………………………………………………………….9

Daftar Pustaka……………………………………………………………..………10


PENDAHULUAN

 

 

Islam melindungi dan memberikan hak hak kepada semua manusia tanpa membeda bedakan untuk menjalankan kehidupan secara layak. Diantara kehidupan yang harus menjadi perhatian orang dewasa adalah nasib anak. Karena anak adalah manusia yang masih kecil, baik dari segi fisik, pikiran dan kejiwaannya. Mereka membutuhkan nafkah dari orang lain, perlindunga hidup dan pendidikan. Setiap anak yang lahir kedunia ini tidak bernasib sama. Ada anak yang mendapatkan hak haknya dari kedua orangtuanya. Namun ada juga yang dikarenakan persoalan ekonomi yang menghimpit kedua orangtuanya atau ditelantarkan oleh ibu yang melahirkan dengan dibuang karena merasa malu hasil dari kumpul kebo atau sebab lainnya. Maka anak harus dirawat dan dibesarkan oleh orang lain yang terpanggil hatinya untuk membiayai semua kebutuhan hidup anak. Anak yang bukan diasuh oleh orang tua kandungnya tersebut disebut anak pungut atau anak angkat dan orang yang memungut atau mengangkatnya disebut bapak asuh. Bagaiman status anak angkat,pungut,anak zina dan apa saja hak – haknya dalam islam, berikut ini penjelasannya.

 

PEMBAHASAN

 

A. Anak Diluar Nikah

Al jurzani dalam kitabnya al ta’rifat, mendefenisikan zina: “ memasukkan penis ( zakar ) kedalam vagina ( faraj ) yang bukan miliknya (bukan istrinya) dan tidak ada unsur syubhat (keserupaan / kekeliruan) “.

Berdasarkan definisi diatas, suatu perbuatan dapat dikatakan zina jika memenuhi dua unsur. Pertama adanya persetubuhan (sexual intercourse) antara dua orang yang berbeda kelamin yang bukan suami istri. Kedua, tidak adanya keserupaan ata kekeliruan (syubhat) dalam perbuatan seks.

Sering dijumpai ditengah tengah masyarakat ada seorang wanita yang melahirkan seorang anak hasil dari hubungan diluar nikah dan masyarakat menyebutnya dengan sebutan anak haram, anak zina, anak jadah dan anak terlaknat. Yang perlu diluruskan adalah sebutan tersebut adalah keliru dan salah sasaran. Karena seakan akan dengan sebutan tersebut si anaklah yang salah dan berdosa. Sebenarnya jika kita melihatnya dengan lurus dan proporsional, sesungguhnya kelahiran anak dari hasil zina tidak salah dan tidak berdosa.

Islam mengakui semua anak yang lahir ke alam ini suci dan bersihh tanpa memandang kedua orangtuanya. Seperti dalam hadis rosulullah SAW yang diriwatkan oleh imam al Baihaqi :

 

 

 

Setiap anak yang dilahirkan didunia ini suci dan bersih dari dosa dan beragama tauhid, sehingga ia jelas bicaranya, maka kedua orangtunyalah yang menyebabkan anaknya beragama yahudi atau nasrani atau majusi.

Sifat suci dan bersih menurut konsep islam itu dimiliki oleh setiap anak yang lahir. Karena masalah dosa dalam islam tidak dikenal adanya dosa turunan. Dosa harus ditanggung oleh setiap manusia yang melakukannya. Hal ini ditegaskan oleh Allah SWT:

žwr& â‘Ì“s? ×ou‘Η#ur u‘ø—Ír 3“t÷zé&

Artinya bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. (QS. Al Najm:38).

Karena itu anak zina harus diperlakukan secara manusiawi, diberi pendidikan,pengajaran, dan keterampilan yang berguna untuk bekal hidupnya dimasyarakat nanti yang bertanggung jawab untuk mencukupi kebutuhan hidupnya materil dan spiritual adalah terutama ibunya yang melahirkannya dan keluarga ibunya. Sebab anak zina hanya mempunyai hubungan nasab atau perdata dengan ibunya.

Apabila ibunya yang melahirkan tidak bertanggung jawab, bahkan sampai hati membuangnya untuk menutup malu atau aib keluarga; maka siapa pun yang menemukan anak (bayi) zina tersebut wajib mengambilnya untuk menyelamatkan jiwanya. Keluarga yang menemukan bayi terlantar akibat dari hubungan gelap orang – orang yang tidak bertanggung jawab, wajib mengasuhnya dan mendidik baik-baik, dan untuk mencukupi kebutuhan hidup anak tersebut, bisa atas harta priibadi keluarga sindiri dan bisa juga atas bantuan baitul mal. Dan bisa juga anak tersubut diserahkan kepada panti asuhan anak yatim.

Perlu ditambahkan bahwa anak yang lahir sebelum enam bulan dari perkawinan, maka sang ayah berhak menolak keabsahan anak itu menjadi anaknya, sebab masa hamil yang paling sedikit berdasarkan alquran surat albaqarah ayat 233 dan surah al ahqaf ayat 15 adalah 6 bulan. Sedangkan masa hamil yang terlama dari seoarang wanita tiada nash yang jelas dari al qur’an dan sunnah. Pendapat fuqaha’ tentang masalah ini berbeda beda mulai dari 9 bulan menurut mazhab zohiri, setahun menurut Muhammad bin abdul hakam al maliki, 2 tahun menurut mazhab imam hanafi, 4 tahun menurut mazhab syafi’I, dan 5 tahun menurut mazhab maliki. Perbedaan pendapat tersebut disebabkan karena hanya didasarkan atas informasi dari sebagian wanita yang dijadikan responden yang belum tentu mengerti ilmu kesehatan khususnya tentang ilmu kandungan.


B. Anak Pungut

 

Anak pungut adalah anak yang dijadikan sebagai anak asuh yang tidak diketahui siapa nasabnya (ibu bapaknya). Dalam bahasa arabnya disebut al laqith, seperti anak yang dipungut dari tempat pembuagan. Anak itu dibuang oleh ibunya yang tidak bertanggung jawab karean untuk menghilangkan malu dari perbuatannya diluar nikah (kumpul kebo/free sex). Dan termasuk anak pungut juga, anak yang diserahakn kerumah sakit karena orangtuanya tidak mampu membayar biaya kelahiran. Pengertian anak pungut diatas sejalan dengan definisi yang dikemukakan oleh Sayyid Sabiq. Ia mengartikan anak pungut adalah anak yang belum dewasa yang ditemukan dijalan dan tidak diketahui nasabnya. Berdosa besar orang tua yang menelantarkan anaknya dan disisi lain berpahala besar orang yang menyelamatkan dan mengurusnya.

}ô`tBur $yd$uŠômr& !$uK¯Rr’x6sù $uŠômr& }¨$¨Y9$# $Yè‹ÏJy_

Dan barangsiapa yang memelihara kdehiupan seorang manusia, maka dia seolah olah telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya (QS. Al Maidahh : 32)

 

 

C. Anak Angkat

1. Sejarah Dan Pengertian Anak Angkat

 

Sebelum islam datang, orang arab jahiliyah telah memeperaktekkan mengangkat anak. Namun praktek pengangkatan anak ketika itu merupakan sebuah budaya yang jauh dari norma norma islam. Orang jahiliyah mengangkat anak dengan menjadikannya sebagai anaknya sendiri, menghilangkan nasab aslinya dan menggantikan nasabnya kepada dirinya (bapak asuh). Dengan demikian tidak ada batas pergaulan antara anak angkatnya yang laki laki dengan anak asli perempuannya. Orang jahiliyah menyamakan hak angkat dengan anak aslinya dalam hal warisan dan mengharamkan kawin dengan anak perempuan aslinya atau dengan istrinya jika ia sudah mati. Budaya seperti ini sebelum islam datang sudah menjadi kebiasaan yang ramai dilakukan oleh orang orang Jahilyah. Sampai sampai sebelum ada hukum yang ditegaskan oleh Islam Nabi Muhammad SAW pernah mengangkat Zaid bin Haritsah, seorang pemuda yang tertawan sejak kecil pada suatu peperangan. Kemudian Hakim bin Hazam membelinya dan diserahkanlah Zaind bin Haritsah kepada Khadijah. Kemudian Khadijah menikah dengan Nabi Muhammad, maka diserahkanlah Zaid bi Haritsah kepada Nabi Muhammad SAW, kemudian bapak dan pamannya mengetahui posisi anaknya. Maka nabi menyuruh Zaid untuk memilih diasuh oleh bapaknya atau oleh nabi. Tapi Zaid lebih memilih nabi. Melihat sikpa Zaid seperti itu, paman dan bapaknya merelakannya. Maka nabi memerdekakannya dan mengangkatnya sebagai anak angkat dan peristiwa ini disaksikan oleh kaum Muslimin ketika itu. Maka ketika itu orang orang Jahiliyah memanggil Zaid dengan Zaid bin Muhammad, ketika itulah Allah SWT memerintahkan kepada nabi untuk menerapkan hukum islam yang baru dan menghilangkan kebiasaan mengangkat anak pada zaman jahiliyah yang menisbatkan nasab kepada bapak angkatnya. Turunlah surat al Ahzab ayat 4-5:

$¨B Ÿ@yèy_ ª!$# 9@ã_tÏ9 `ÏiB Éú÷üt7ù=s% ’Îû ¾ÏmÏùöqy_ 4 $tBur Ÿ@yèy_ ãNä3y_ºurø—r& ‘Ï«¯»©9$# tbrãÎg»sàè? £`åk÷]ÏB ö/ä3ÏG»yg¨Bé& 4 $tBur Ÿ@yèy_ öNä.uä!$uŠÏã÷Šr& öNä.uä!$oYö/r& 4 öNä3Ï9ºsŒ Nä3ä9öqs% öNä3Ïdºuqøùr’Î/ ( ª!$#ur ãAqà)tƒ ¨,ysø9$# uqèdur “ωôgtƒ Ÿ@‹Î6¡¡9$# ÇÍÈ   öNèdqãã÷Š$# öNÎgͬ!$t/Ky uqèd äÝ|¡ø%r& y‰ZÏã «!$# 4 bÎ*sù öN©9 (#þqßJn=÷ès? öNèduä!$t/#uä öNà6çRºuq÷zÎ*sù ’Îû ÈûïÏe$!$# öNä3‹Ï9ºuqtBur 4 }§øŠs9ur öNà6ø‹n=tæ Óy$uZã_ !$yJ‹Ïù Oè?ù’sÜ÷zr& ¾ÏmÎ/ `Å3»s9ur $¨B ôNy‰£Jyès? öNä3ç/qè=è% 4 tb%Ÿ2ur ª!$# #Y‘qàÿxî $¸JŠÏm§‘ ÇÎÈ

Artinya:n”Dia tidak menjadikan anak anak angkatmu sebagai anak kandungmu sendiri. Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan yang benar. Panggillah mereka (anak anak angkat itu) dengan memakai nama bapak bapak mereka; itulah yang lebih adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak bapak mereka, maka penggillah mereka sebagai saudara saudaramu seagama dan maula maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

anak angkat adalah anak  yang dijadikan sebagai anak asuh yang diketahui nasab kedua orangtuanya. Ada “serah terima” yang resmi dari kedua orang tua asli kepada orang tua angkat. Dengan demikian tidak ada alasan bagi orang tua asuh untuk menasabkan anak angkatnya kepada dirinya. Ia mengangkat anak karena untuk menolong dan memberikan bekal pendidikan bukan menghilangkan nasab.

Dengan demikian secara prinsip antara anak pungut dengan anak angkat tidak ada perbedaan. Perbedaan itu hanya sebatas pengambilan. Namun pada hakikatnya sama. Baik anak pungut dan anak angkat adalah bukan anak asli, ia diasuh, dibesarkan dan dididik oleh orang lain dan tidak ada hubungan nasab antara anak asuh dengan bapak asuhnya. Dalam bahasa Arab menjadikan anak sebagai anak asuh disebut tabanni, atau bahasa inggrisnya disebut adopsi. Atas dasar untuk menolong dan mengasuh serta mendidik anak , maka “mengangat anak “ dalam islam di definisikan sebagaimana dirumuskan oleh Muhammad Syaltut:

“Seseorang mengangkat anak yang diketahui bahwa anak itu adalah anak orang lain. Lalu ia memperlakukan anak tersebut sama dengan anak kandungnya, baik dari segi kasih sayang, nafkah, pendidikan, serta perhatian dengan tidak menyamakannya dalam nasab. Kedudukan anak angkat bukan anak secara syara’ dan tidak memiliki hak hak sebagai anak asli”.

Seorang bapak angkat boleh menikahi bekas istri anak angkatnya. Hal ini lebih mnguatkan lagi karena sesungguhnya anak angkat itu adalah bukan anak asli, oleh karena itu sah untuk dinikahi. Hal ini menghapus budaya yang berlaku dikalangan kaum Jahiliyah. Peristiwa ini langsung dicontohkan oleh Nabi dengan menikahi Zainab bin Jahsin (anak bibi nabi). Zainab adalah bekas istri Zaid (anak angkat nabi) yang dicerai oleh Zaid karena tidak ada kecocokan antara keduanya. Lalu Zainab dinikahi oleh Rosulullah SAW.

 

2. Anjuran dan Tujuan Mengangkat Anak

Kalau diperhatikan secara cermat bahwa mengangkat anak dalalm islam adalah pekerjaan yang sangat mulia, bagian dari perbuatan baik yang dianjurkan oleh islam. Sebab didalamnya terdapat unsur tolong menolong yang dapat mendekatkan diri pelakunya kepada Allah swt. Sudah seharusnya orang islam yang kaya atau orang yang belum dianugerahi anak atau siapa saja yang mampu untuk mengambil bagian dalam pekerjaan mangangkat anak ini.

Di Indonesia kita perhatikan ada beberapa motif seseorang mengangkat anak. Ada bermotif agar keluarga yang tidak punya anak itu memperoleh anak (dijadikan anak kandung) untuk meneruskan garis keturuannya. Yang seperti ini diharamkan dalam islam. Ada juga yang bermotif untuk dijadikan sebagai pancingan bagi orang tua yang mengangkatnya yang tidak punya anak itu. Dan ada juga yang bermotif mendapat tenaga kerja atau merasa kasihan terhadap nasib anak. Kedua motif terakhir dapat dibenarkan oleh islam selama tidak menjadikannya sebagai anak kandung.

Islam sebagai agama yang sempurna sarat dengan ajaran kepedulian terhadap sosial. Islam tidak membenarkan umatnya hidup rakus, egois dan tidak peduli terhadap lingkungannya. Berikut ini adalah ayat ayat yang menganjurkan agar mengangkat anak sebagai salah satu ajaran kepedulian sosial dapat dijalankan oleh umat islam.

¢ (#qçRur$yès?ur ’n?tã ÎhŽÉ9ø9$# 3“uqø)­G9$#ur ( Ÿwur (#qçRur$yès? ’n?tã ÉOøOM}$# Èbºurô‰ãèø9$#ur 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ( ¨bÎ) ©!$# ߉ƒÏ‰x© É>$s)Ïèø9$# ÇËÈ

Artinya: dan tolong menolong lah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran (QS. Al Maidah:2)

tbqßJÏèôÜãƒur tP$yè©Ü9$# 4’n?tã ¾ÏmÎm7ãm $YZŠÅ3ó¡ÏB $VJŠÏKtƒur #·ŽÅ™r&ur ÇÑÈ

Artinya: dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan, (QS. Al Insan: 8)

|M÷ƒuäu‘r& “Ï%©!$# Ü>Éj‹s3ムÉúïÏe$!$$Î/ ÇÊÈ   šÏ9ºx‹sù ”Ï%©!$# ‘í߉tƒ zOŠÏKuŠø9$# ÇËÈ   Ÿwur Ùçts† 4’n?tã ÏQ$yèsÛ ÈûüÅ3ó¡ÏJø9$# ÇÌÈ

Artinya: tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?itulah orang orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.(QS. Al Ma’un:1-3)

 

žxx. ( @t/ žw tbqãB̍õ3è? zO‹ÏKu‹ø9$# ÇÊÐÈ   Ÿwur šcq‘Ò¯»ptrB 4’n?tã ÏQ$yèsÛ ÈûüÅ3ó¡ÏJø9$# ÇÊÑÈ

Artinya: sekali kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin.(QS. Al Fajr: 17-18)

 

Dalam hadits rasulullah, Allah memberikan ganjaran surga kepada orang yang tulus ikhlas memberi bantuan kepada orang yang tidak mampu seperti anak yatim:

 

 

Aritnya: aku (naib) dan orang yang mengasuh anak yatim disurga seperti ini, nabi mengisyaratkan dengan menunjukkan ibu jari dan jari tengah dan Rasul merapatkan kedua jarinya. (HR. Bukhari)

 

D. akibat Hukum dari Mengangkat Anak

 

Hal yang penting untuk diluruskan adalah status hukum antara anak angkat dan bapak angkat. Sebab jika melihat budaya jahiliyah status anak angkat disamakan haknya dengan anak sendiri. Dan ada banyak kasus dimasyarakat, seorang bapak angkat (yang tidak punya anak) yang sudah terlanjur sayang kepada anak angkatnya. Si bapak angkat itu tidak mau menjelaskan kepada anak angkatnya bahwa ia adalah bukan anak asli. Padahal si anak angkat tersebut telah dewasa. Usaha untuk menutup – nitupi yang dilakukan oleh orang tua angkat tentang status anak angkatnya ditegaskan oleh syekh Yusuf Qardhawi merupakan hal yang sia- sia.  Atinya hal itu pasti terbongkar juga. Sebab kebohongan perkataan manusia tidak dapat menutupi kebenaran, tidak dapat mengubah realitas sebenarnya. Kebohongan tidak akan dapat menjadikan orang luar menjadi anak kandung. Dan yang ajaib tidak akan ada di dalam dada bapak angkat sifat kebapakan seperti bapak kandung terhadap anak kandungnya. Dan tidak juga ditemukan perasaan sebagai anak kandung dalam diri anak angkat terhadap bapak angkatnya serta si anak angkat tidak mewarisi sifat sifat tertentu dari bapak angkatnya. Hal ini diperkuat oleh firman Allah swt:

( ª!$#ur ãAqà)tƒ ¨,ysø9$# uqèdur “ωôgtƒ Ÿ@‹Î6¡¡9$# ÇÍÈ

Artinya: dan Alla mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar) (QS. Al Ahzab: 4)

 

Motoivasi dan tujuan mengangkat anak tidak lain kecuali dalam rangka menolong, memberi nafkah lahir dan batin, serta mendidik agama anak. Maka dengan demikian status anak angkat jika dihubungkan dengan orang tua angkat adalah orang lain, oleh karena itu status hukumnya pun jelas, yaitu:

  1. orang tua angkat tidak boleh mengganti nasab anak angkat dengan dirinya sendiri (orang tua angkat)
  2. anak angkat tidak berhak mendapatkan waris jika orang tua angkatnya meniggal. Karena tidak ada hubungan darah, tidak terjadi hubungan pernikahan dan tidak ada hubungan saudara. Namun orang tua angkat dapat memeberikannya hibah atau wasiat sebagian hartanya untuk kesejahteraan anak angkatnya.
  3. hubungan anak angkat dengan orang tua angkat dan keluarga orang tua angkat tidak menghilangkan kemahraman. Yang diharamkan oleh Al Qur’an adalah mengawini anak kandung bukan anak angkat. Maka boleh saja orang tua angkat menikah dengan anak angkatnya atau bekas suami/istri anak angkatnya. Juga diperbolehkan anak angkatnya menikah dengan anak kandung bapak angkatnya.

 

Hal yang penting untuk diperhatikan, jika anak angkatnya sudah dewasa, telah mandiri dan telah sejahtera hidupnya di kemudian hari, maka secara agama dan manusiawi tidak boleh anak angkat melupakan orang tua angkatnya yang telah berjasa membesarkan dan mendidiknya. Anak angkat wajib menghormati, membina silaturrahim dan jika diperlukan anak angkat bisa memberikan hibah sebagian harta kepada orang tua angkatnya untuk kesejahteraan bapak angkatnya. Hal ini sewajarnya harus dilakukan oleh anak angkat meskipun bukan didasari oleh hukum tapi pertimbangan moral yang tinggi.

 

PENUTUP

 

Kesimpulan

Anak pungut adalah anak yang dijjadikan sebagai anak asuh yang tidak diketahui siapa nasabnya (ibu bapaknya). Dan termasuk anak pungut juga anak yang diserahkan kerumah sakit karena orangtuaya tidak mampu membayar biaya kelahiran.

Anak angkat adalah anak yang dijadikan sebagai anak asuh yang diketahui nasab kedua orangtuanya. Baik anak angkat maupun anak pungut bukanlah anak asli, ia diasuh, dibesarkan dan dididik oleh orang lain dan tidak ada hubungan nasab antara anak asuh dengan bapak asuhnya/. Status anak angkat dan anak pungut tidak bias disamakan dalam nasab karena kedudukan anak angkat bukan anak secara syara’ dan tidak memiliki hak – hak sebagai anak asli.

Anak zina adalah anak hasil hubungan suami istri diluar nikah dan status anak zina hanya memiliki nasab dengan ibunya dan keluarga ibunya, waris mewaris dengan ibunya saja, dan jika anak yang lahir itu perempuan dalam nikah yang menjadi walinya adalah wali hakim. Wallahu a’lam bisshawaf.

 

Daftar Pustaka

 

Shidik, Safiun. Hukum islam tentang berbagai persoalan kontemporer. PT. INTIMEDIA CIPTA NUSANTARA.Jakarta Timur:2004

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s